pengalaman yang berkesan
Beradaptasi dan Berkembang
"Agis, atau Giza, terserah kamu mau panggil apa," kataku sambil tersenyum. Namaku Gadisa Izdihar, memang sedikit unik. Sering kali, orang-orang bertanya, "Nanti kalau tua namanya gimana ?" atau "Seriusan namanya Gadisa?" Entahlah, mungkin orang tuaku memang suka yang beda. Mereka bilang, namaku terinspirasi dari seorang presenter berita dan harapan mereka akan kehadiran seorang anak perempuan(anak gadis).
Sejak kecil, aku dikenal sebagai anak yang cukup pintar. Selalu masuk peringkat 5 besar dan sering menjadi juara kelas. Tapi, jangan salah, aku bukan kutu buku yang suka pamer. Aku lebih suka diam-diam belajar dan memahami materi dengan cara sendiri. Teman-temanku dulu sering heran, "Kok bisa sih, Agis juara kelas? Padahal dia cuek banget kalau masalah pelajaran!" Ya, aku memang pendiam dan lebih suka berpikir daripada bercerita. Aku belajar dengan sungguh-sungguh, mendengarkan penjelasan guru dengan saksama. Sebelum ujian, aku akan mengulang semua materi dari awal hingga akhir, membuat catatan penting dari setiap pelajaran. Meskipun melelahkan, rasa senang ketika berhasil menjawab soal dengan benar selalu mengalahkan rasa lelahku. Setelah mereka melihat bagaimana aku belajar dengan sungguh-sungguh, mereka akhirnya mengerti mengapa aku, yang dikenal cerewet di luar kelas dan pendiam di dalam kelas, bisa menjadi juara kelas.
Mungkin pengalaman yang paling berkesan menurutku adalah saat pindah sekolah di SMP. Tahun itu, aku kelas 2 SMP. Aku memutuskan untuk pindah dari sekolahku di Dharmasraya ke SMP 2 Gunung Talang. Di sana, aku tinggal bersama Buk Ngah, kakak perempuan ibuku.
"Agis, kamu yakin mau pindah sekolah?" tanya Mama, raut wajahnya penuh kekhawatiran. Aku mengangguk mantap.
Setelah pindah, aku hanya melakukan perjalanan ke Solok sesekali, untuk mengumpulkan tugas di sekolah baruku. Hampir semua pembelajaran dilakukan secara daring,karena saat itu tejadi wabah viris corona.Aku merindukan sekolah lama, teman-teman, dan kehidupan normal sebelum pandemi. saat persiapan masuk SMA, aku terjangkit COVID-19. Mungkin aku tertular karna perjalanan terakhirku dari Dharmasraya ke Solok. Aku merasakan pusing, tapi yang paling berat adalah harus diisolasi mandiri, jauh dari keluarga. Dunia terasa berat, hanya dukungan dan semangat dari keluarga dan teman-teman lewat panggilan video yang menjadi obat sakitku.
Hampir tiga minggu aku diisolasi, dan saat itu pembelajaran di SMA sudah dimulai. Saat dinyatakan negatif, aku tertinggal pelajaran dan merasa asing di kelas baru. Teman-teman sudah punya kelompoknya masing-masing. Aku seperti terjebak di antara mereka, tak tahu harus memulai pertemanan dari mana. Rasa takut dan kesepian menyelimutiku. Aku berusaha keras untuk memahami pelajaran dan membangun pertemanan baru. Namun, kesulitan itu membuatku sadar bahwa hidup tak selalu berjalan mulus. Ada kalanya, kita harus berjuang melewati rintangan dan menemukan cara untuk bangkit kembali.
Setelah beberapa waktu, aku pun bisa menyesuaikan diri dengan sekolahku. Aku belajar untuk lebih tegar dan pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan. Pengalaman itu mengajarkan aku untuk lebih menghargai kebersamaan dengan keluarga dan teman-teman. Aku menyadari bahwa dukungan dan semangat mereka adalah kekuatan yang tak ternilai...
Comments
Post a Comment